Larvul Ngabal: Keunikan Adat, Keunikan Pariwisata

Print
Category: Opini

Oleh: Robert Remetwa (Jurnalis, Aktivis LSM)

 

Menyebut Kei, pasti ada dua hal yang muncul di kepala kita yaitu Larvul Ngabal dan Enbal. Larvul Ngabal adalah hukum adat Kei dan Enbal adalah makanan khas Kei.

Tentang enbal, pemerintah Maluku Tenggara telah menjadikannya sebagai komuditi khas sejak beberapa tahun silam mulai sejak Ir Anderias Rentanubun menjadi Bupati Maluku Tenggara. Pada saat Festival Pesona Meti Kei II yang puncaknya diselenggarakan 23 Oktober 2017, enbal mendapat rekor muri karena diolah dalam puluhan jenis sajian. Pertanyaannya, apakah enbal akan bertahan dibudidaya di atas tanah karang Kei yang tiap tahun lahan tanamnya makin mengecil oleh gencarnya pemanfaatan lahan untuk gedung dan perumahan?

Baik, kita kembali pada topik hukum adat Larvul Ngabal. Asset Kei yang satu ini seolah-olah dipandang sebagai hukum adat belaka yang bagi sebagian orang perlu dihindari. Namun dalam catatan pengalaman kami, maupun tuturan pengalaman beberapa Pelayan Tuhan bahwa orang Kei masih kuat mengakui esensi dan eksistensi hukum adatnya, bahkan banyak yang takluk ketika mendapatkan sanksi ilahi dari hukum tersebut.

Sayangnya, hukum adat Kei tidak diangkat sebagai “KEUNIKAN” yang dapat pula menjadi asset pariwisata yang tidak berkesudahan. Hukum adat yang lahir ratusan tahun silam, sampai hari ini masih diakui, terbukti ampuh dan tidak dapat ditinggalkan atau ditiadakan atau usang dimakan waktu. Hukum adat Larvul Ngabal bukan sekedar hukum yang dianut oleh orang Kei, ia mengandung nilai-nilai universal yang dapat diterima dunia maupun agama-agama. Saudaraku yang sudah tinggal puluhan tahun di Surabaya mengatakan, “saya memandang Larvul Ngabal bukan sebagai hukum, Larvul Ngabal adalah suatu keyakinan, dia lebih tepat merupakan sebuah agama”, kata dia kepada saya dalam sebuah ceritera lepas baru-baru ini. Saudaraku ini nenek buyutnya dari Kei, tetapi dia keturunan Tionghoa.

Seorang misionaris asal negeri Belanda datang di Kei pada masa penjajahan untuk menyebarkan agama Katolik di Kei, dia menulis demikian: “Saya datang di ...., saya melihat ada pembunuhan dan pesta seks, saya juga datang di ...., saya melihat hal yang sama. Tetapi ketika saya datang di Kei, saya melihat orang Kei hidup rukun dan damai, juga tidak ada pesta seks. Jadi orang Kei tidak beragama pun masuk surga (jikalau mereka hidup menurut hukum yang mereka anut).”

Kata saudaraku yang tinggal di Surabaya, dan manuskrip yang ditinggalkan misionaris dari Belanda itu menunjukkan bahwa betapa luhur Larvul Ngabal, betapa pantasnya hukum adat Larvul Ngabal ditegakkan dalam kehidupan masyarakat di Kei, dan betapa uniknya hukum adat Larvul Ngabal di mata dunia.

Keunikan hukum adat Larvul Ngabal itulah yang memantaskan Larvul Ngabal dijadikan sebagai dasar peradaban Kei dan khususnya kepariwisataan di Kei.

Beberapa kali telah kami tuliskan hal ini, bahwa Larvul Ngabal dapat menjadi instrumen pembangunan akhlak dan moral yang menjamin terlesenggarakan kehidupan yang damai, sejahtera dan bermartabat. Kehidupan yang damai, sejahtera dan bermartabat akan menjadi sorotan dunia di masa depan, dan akan dicari untuk dinikmati dan dialami.

Dengan demikian, adalah tepat pariwisata Kei menjadikan “The Paradise Key Island” sebagai branch pariwisatanya. The Paradise Kei Island berarti Pulau Kunci Surga, atau dalam bahasa kei disebut “Nuhu Bardingil Sorga”.

Mengapa disebut “pulau kunci surga?” Karena, jikalau semua orang hidup menurut hukum adat Larvul Ngabal, maka dia akan masuk surga. Selain itu, jikalau semua orang hidup menurut hukum adat Larvul Ngabal maka Kei akan menjadi sangat damai dan bersahaja, bagaikan kehidupan surgawi. Pada saat itulah, orang-orang akan berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk menikmati kehidupan damai dan bersahaja itu. Selain itu, mereka tentunya akan menikmati pula bagaimana praktek penegakkan hukum adat Larvul Nagabal yang terselenggara, serta mereka menikmati adat istiadat Kei yang bersumber dari Larvul Ngabal.

Apakah kita bisa mewujudkan Nuhu Bardingil Sorga tersebut? Pertanyaan balik, apakah itu sulit dicapai? Kita semua manusia pernah bersalah dan berdosa, tetapi apakah kita masih terus menerus mau melakukan kesalahan dan dosa? Pasti setiap insan ada keinginan dan harapan untuk bertobat dan hidup baik-baik menurut adat, agama dan dasar negara kita. Keinginan dan harapan itulah menjadi modal dasar sekaligus jaminan bahwa kita pasti bisa mewujudkan Kei sebagai Pulau Kunci Surga.

Pertanyaan reflektif untuk kita semua yaitu, apa tujuan hidup saya? apa tujuan hidup anda? Mari kita masing-masing menjawab dan marilah dengan penuh kesadaran kita angkat dayung pengharapan, berlayar menuju “PULAU KUNCI SURGA”.