dr. Auldrich Huka: Saya Selamat Karena Kemurahan Hati Tuhan

Category: Sosial

 

Kendati tidak diimbangi dengan kemampuan renang yang baik, dr. Auldrich Huka termasuk dalam kelompok penumpang longboat BUMO Watkidat yang selamat. Hal ini justru menjadi kesaksian iman tersendiri bagi sang dokter.

Korban

Dr. Auldrich salah satu korban selamat longboat BUMO Watkidat ketika diwawancarai awak media (Foto: Piet Res).

 

Langgur, suaradamai.com – Dokter Auldrich Huka dalam kesehariannya bertugas sebagai dokter pada Puskesmas Ohoi Larat, Kecamatan Kei Besar Selatan Timur, Kabupaten Maluku Tenggara. Bertugas di Ohoi Larat mengharuskan dokter yang berasal dari Sulawesi Selatan ini untuk terbiasa dengan perairan Teluk Nerong. Kendati sering dilanda gelombang laut yang disertai dengan angin kencang, perairan Teluk Nerong sudah seperti sahabat bagi dokter muda ini.

Meski demikian, sang dokter sama sekali tidak memiliki kemampuan renang yang baik. Hal ini justru menjadi cerita yang menarik karena dirinya termasuk dalam kelompok korban selamat tragedi Longboat BUMO Watkidat yang tenggelam di Teluk Nerong pada tanggal 14 September 2019.

Ditemui di RSUD Langgur ketika menjalani perawatan pasca peristiwa nahas yang menimpanya, Auldrich mengungkapkan bahwa dirinya dapat selamat hanya karena kumurahan hati Tuhan. Tidak memiliki kemampuan renang yang baik, dirinya mengakui bahwa tanpa campur tangan dan kasih Tuhan, hidupnya pasti tidak tertolong.

“Beta selamat itu, karena kemurahan hati Tuhan. Yang pastinya beta selamat itu karena beta berusaha mencoba memegang yang sudah mengapung di atas (permukaan air),” ungkapnya.

Auldrich berangkat bersama rombongan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Irene Tual menuju Ohoi Rerean dari Ohoi Mastur tepat pada pukul 11.50 WIT. Dirinya mengisahkan bahwa ketika perahu yang ditumpanginya sudah berada jauh dari bibir pantai Mastur, ombak mulai terlihat tidak bersahabat. Kendati demikian, semua penumpang longboat BUMO Watkidat yang mayoritas kaum perempuan, masih terlihat tenang.

Kepanikan para penumpang terlihat jelas ketika hantaman ombak memecahkan lambung depan perahu. Masuknya air dalam jumlah yang banyak ke dalam perahu kemudian mengakibatkan perahu terbalik antara pukul 12.20 WIT - 12.25 WIT. Satu per satu penumpang berupaya menyelamatkan diri dari dalam perahu yang telah terbalik, termasuk dirinya.

Derasnya terpaan ombak semakin diperparah dengan tumpahan bahan bakar minyak sehingga sangat menyulitkan upaya untuk menyelamatkan diri. Auldrich mengakui bahwa bukan perkara mudah, dirinya bisa selamat dari peristiwa nahas itu.

“Spit (longboat) terbalik langsung semua cari pertolongan keluar. Ada yang keluar dari pintu dan ada yang keluar dari jendela. Beta dengar suara yang terakhir orang bataria cari pintu. Langsung beta cari pintu lalu berjuang ke atas (permukaan air). Beta seng tau bagaimana beta bisa naik ke atas ambil udara. Pertama kali, beta lia ada orang yang pegang gen, lalu beta pegang kakinya, tapi tiba-tiba ombak terpa lagi, trus beta tampias ke belakang lebih dekat ke bodi (longboat). Lalu beta minta tolong yang duduk di atas bodi itu, tolong-tolong. Trus dong angkat beta naik di atas. Beta sampai di atas tidak terlihat semudah itu,” tutur Auldrich.

Sang dokter justru tertolong badan longboat yang masih terapung. Dirinya dan beberapa penumpang lainnya terpaksa harus menyelamatkan diri di atas badan longboat yang telah terbalik. Terombang-ambing selama kurang lebih 20 menit, Auldrich dan beberapa penumpang lainnya akhirnya ditolong oleh sebuah perahu ketinting nelayan yang datang membantu. Dirinya merupakan korban selamat yang terakhir dibawa ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur. (pietres/NR)