Prosesi Adat Tutup Atap Gereja St. Antonius De Padua Stasi Wulurat

Category: Sosial

 

Momentum tutup atap Gereja St. Antonius de Padua adalah kesempatan untuk menggali dan memunculkan kultur, adat dan budaya sebagai nilai-nilai dan kearifan lokal yang terancam punah karena pengaruh zaman

Suasana penerimaan Wakil Bupati Malra dan rombongan di atas makam Iksael Te Teen

Suasana penerimaan Wakil Bupati Malra dan rombongan di atas makam Iksael Te Te'en (Foto: FB. Kominfo Malra).

 

Elat (Wulurat), suaradamai.com – Ohoi Wulurat akhirnya menggelar prosesi adat dalam rangka It Rafak Duad Ni Rahan atau penutupan atap Gereja Katolik Santo Antonius De Padua. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Maluku Tenggara Ir. Petrus Beruatwarin dan berlangsung khidmat, Kamis (12/09/2019).

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan Wabup Malra bersama rombongan oleh sosoi (tarian) penjemputan oleh sekelompok ibu dari Vat Yan Ur di pintu masuk jalan Wear Bael. Selanjutnya, rombongan Wabup Malra diantar anak-anak Ngefuit Atas dengan iringan bunyi tipal yang menggetarkan jiwa dan senandung seruling yang membela raga.

Pujian bermeterai yang menyulam kebersamaan dan merangkai persaudaraan antara Ohoi Ngefuit Atas dan Ohoi Wulurat. Semua ini menjadi simbol sebuah penghargaan dari Vat Yan Ur yang tak ternilai bagi Ko Yam Faak Wulurat. Iring-iringan lalu berlanjut menuju Makam Iksael Te Teen.

Makam Iksael Te Teen pun punya kisahnya tersendiri. Ketika diperhadapkan pada pilihan antara dimakamkan di bawah pohon atau goa atau di dalam tanah, Leluhur Ko Yam Faak memilih dimakamkan di Iksael, di atas tanah yang dikelilingi tembok batu. Tempat disemayamkan baran (laki-laki) 7 leluhur yang adalah pendiri Benteng Kot Ohowait dalam bentuk Iksael. Jenazah mereka direbahkan di atas susunan batu dan beralaskan piring sebagai tanda penghormatan atas jasa dan perjuangan mereka dalam membangun benteng Kot Ohoiwait yang masih terjaga berabad-abad sebagai tanda peradaban masyarakat Ko Yam Faak di Wulurat.

Doa Adat di Iksael dipimpin oleh Urbanus Sangur, salah satu putra dari Sarkol Yam, yang memohon kepada Tuhan dan leluhur agar merestui pekerjaan yang sedang dihadapi oleh Ko Yam Faak. "Dad nit amher im kulik batang ya'nab ubub aem fo am taha ledar ler i ti'ntut na'a soin ni har na'a wahan (kami minta kepada leluhur untuk menjaga dan melindungi anak cucu kami dalam menghadapi pekerjaan ini hingga sukses sampai tujuannya)," demikian doa adat dalam bahasa Kei yg disampaikan Sangur.

Wakil Bupati dan rombongan kemudian menaiki tangga masuk Benteng Ohoi Tua dan Woma El Walob Bael Nganu Wulurat. Menurut masyarakat setempat, El Walob Bael Nganu adalah tanat adat yang kaya akan peradaban, filsofi dan kultur peninggalan leluhur. Sementara percikan air dalam setiap proses adat mengandung arti penyucian diri. Percikan air dari sisi kiri menandai pembersihan dan penyucian diri, sedangkan percikan di sisi kanan bermakna harapan akan terang dan kemuliaan.

Tampilan Woma El Walob Bael Nganu menggambarkan sebuah maha karya peninggalan sejarah peradaban masa lalu, bukti kemegahan gaya arsitektur tangan trampil Ko Yam Faak. Thomas A Rahangiar saat membaca sinopsis mengatakan, Woma El Walob Bael Nganu adalah sebuah benteng yang memadu kekuatan yang menurut masyarakat Ko Yam Faak adalah benteng yang melambangkan martabat Ohoi Wulurat.

Bentuk Woma El Walob Bail Nganu adalah gaya arsitektur abad 14 yang diambil dari batu dalam pergumulan tiga musim timur (timur foka fatel), sementara musim timur masih menyisahkan misteri bebatuan gunung di sisi utara tembok melalui sisi timur. Bentuk asli Woma El Walob Bael Nganu adalah tembok batu Kot Ohoi Wait berukuran tinggi 7 meter terdiri dari 7 trap (tangga) yang kemudian direnovasi menjadi 4 trap (tangga) atas perintah kolonial Belanda hingga kini. Woma El Walob Bael Nganu berukuran panjang 40,5 meter, lebar 39,9 meter dengan ketebalan tembok batu 2 meter, masih seperti aslinya. Pintu depan (Vid Kerbau) berukuran lebar 1,5 meter di bagian utara dan pintu belakang (Vid Waluis) berukuran 2 meter di selatan.

Dalam sinopsis Thomas menjelaskan, sebagai benteng pertahanan, Woma El Walob Bael Nganu yang merupakan tembok batu Kot Ohoi Wait pada zamannya memiliki ornamen dua pintu rahasia yang terletak di sisi timur dan barat pada dasar tembok, 4 jendela pengintai di dua sudut barat dan selatan. Menurutnya, Woma El Walob Bael Nganu memiliki istana batu yang telah didirikan oleh keindahan cinta di mana jiwa bisa memuja dan hati berlutut merendahkan diri dan berdoa bagi leluhur segala kaum dan bangsa. Ia menjelaskan, Pelataran Woma terbagi atas 2 bagian, bagian atas berfungsi sebagai tempat maduvun sedangkan bagian bawah sebagai tempat pemasangan api kehidupan.

Pastor Fred Sarkol, MSC dalam sambutannya mengatakan bahwa momentum tutup atap Gereja St. Antonius de Padua adalah kesempatan untuk menggali dan memunculkan kultur, adat dan budaya sebagai nilai-nilai dan kearifan lokal yang terancam punah karena pengaruh zaman. Hadir dalam acara tersebut Vat Yan Ur dan Mel Mang Ohoi maupun hubungan pertalian dan kekerabatan baik yang ada di Kei Kecil maupun di Kei Besar. (tarsytemorubun/NR)

 

Suasana penerimaan Wakil Bupati Malra dan rombongan di atas makam Iksael Te Teen 2

Suasana penerimaan Wakil Bupati Malra dan rombongan di atas makam Iksael Te Te'en (Foto: Tarsy Temorubun).