Prosesi Adat Akan Warnai Kegiatan Tutup Atap Gereja Wulurat

Category: Sosial

 

Pemasangan atap gereja dilihat sebagai kesempatan untuk mempromosikan Ohoi Wulurat sebagai desa wisata budaya. Oleh karena itu, kegiatan ini akan diwarnai dengan prosesi adat. Kegiatan ini juga rencananya akan dihadiri oleh Bupati Maluku Tenggara.

Gereja Wulurat Kei Besar

Gedung Gereja Katolik St. Antonius De Padua Ohoi Wulurat tampak dari depan (Foto: Tarsy Temorubun).

 

Elat (Wulurat), suaradamai.com – Pemasangan atap Gereja St. Antonius De Padua Wulurat adalah momen yang sangat penting. Momen ini setidaknya dapat dimanfaatkan oleh panitia pembangunan gereja untuk dapat mempromosikan adat dan budaya Kei khususnya di Ohoi Wulurat. Demikian disampaikan Ketua Panitia Pembangunan Gereja St. Antonius De Padua Stasi Wulurat Serafandus B. Rahangiar kepada Suaradamai.com di Wulurat, Minggu (08/09/2019).

"Saat tutup (pemasangan atap –red) gereja, semua Vat Mangur (saudara perempuan yang kawin di luar), kampung-kampung tetangga yang hadir selain mereka bawa yelim (sumbangan) mereka juga persembahkan tarian adat, jadi proses adat dan sosoi Evav akan mewarnai acara penutupan gereja nanti," ungkap Rahangiar.

Ia menjelaskan, sesuai rencana, pemasangan atap gereja akan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 12 September 2019 dan akan dihadiri oleh Bupati Maluku Tenggara Drs. M. Thaher Hanubun dan Muspida lainnya. Rombongan bupati akan dijemput di Pelabuhan Elat oleh Kepala Ohoi beserta staf dan perangkat adat Ohoi Wulurat.

 

Baca juga: Bupati Hanubun Dukung Penuh Pengembangan Iman dan Pembangunan Gereja Katolik di Kei

 

Kemudian, rombongan bupati bersama para penjemput akan menuju ke Ohoi Wulurat. Sebelum masuk di Benteng Ohoi dan Woma El Welob Bail Ngamu, bupati dan rombongan diterima di pintu masuk ohoi di Jalan Wear Bal dengan iringan tarian dari keluarga Ohoi Ngefuit Atas.

Rombongan lalu diantar masuk ke Benteng Ohoi dan Woma untuk proses penerimaan secara adat yang akan diawali dengan pembacaan sinopsis tentang Ohoi Wulurat dan proses adat (tetoryam) oleh keluarga Moryaan sebagai tuan tanah. Sesudahnya, rombongan akan diterima di rumah adat Rushawear untuk proses angkat muka dari kaum perempuan Kei Kecil yang kawin di Ohoi Wulurat.

 

Baca juga: Tarian Warga Muslim Elat Sambut Kedatangan Material Gedung Gereja Wulurat

 

Lebih lanjut Rahangiar menjelaskan, untuk proses selanjutnya, rombongan bupati, tokoh adat dan tokoh agama akan turut didampingi salah satu keluarga turunan lurus dari (Alm.) Falerius Yanwarin dari Ohoi Wetuar. Untuk diketahui, Falerius Yanwarin adalah sosok yang memperkenalkan dan membawa masuk agama Katolik ke Ohoi Wulurat.

Selain itu, turut dibawa serta empat lembar daun seng yang sudah disiapkan di Woma. Keempat lembar daun seng itu melambangkan 4 marga besar di Wulurat yakni Moryaan, Morwarin, Sarkol dan Rahangiar. Rombongan kemudian diantar dengan belan Sikrau menuju lokasi Gereja.

Menurut Rahangiar, sebelum penutupan atap gereja, acara diawali dengan doa dan pemberkatan untuk daun seng dan para pekerja yang dipimpin oleh pastor paroki. Kemudian sambutan-sambutan yakni dari ketua panitia pembangunan, Pastor Fred Sakol, MSC (putra Ohoi Wulurat) serta Bupati Maluku Tenggara.

 

Baca juga: Lewat Liturgi Gereja, Bahasa Kei Hidup Kembali

 

Selanjutnya, daun seng pertama diserahkan kepada Vat Yangur yang telah ditunjuk untuk selanjutnya diserakan kepada para tukang untuk memulai penutupan atap. Pada bunyi mata bor pertama langsung disambut dengan 3 kali teriakan dari seluruh yang hadir pertanda penutupan atap gereja dimulai.

Daun seng kedua kemudian diserahkan kepada bupati untuk diteruskan ke para tukang, dilanjutkan dengan daun seng ketiga dan seterusnya dibagi ke semua yang hadir saat itu yang bersedia menerimanya, sampai 210 lembar daun seng itu habis terbagi.

Sesuai rencana saat penutupan atap gereja berlangsung, tarian atau sosi adat akan dipentaskan oleh kampung-kampung tetangga dan Vat Yangur yang hadir. "Sementara tirat (penutupan atap) gereja jalan, tetap pesta rakyat seperti tarian adat dari ohoi-ohoi tetangga termasuk keluarga Sanmas Wakol, pokoknya hari itu tidak ada bunyi musik," ujar Rahangiar.

Kepala Ohoi Wulurat Denis Sarkol mengatakan, proses adat lebih banyak dimunculkan pada momen tutup atap gereja karena Ohoi Wulurat tergolong sebagai ohoi wisata budaya. "Proses adat lebih banyak kami munculkan karena ini kesempatan, karena ohoi ini (Wulurat) kami jadikan sebagai ohoi wusata budaya," ungkap Sarkol. (tarsytemorubun/nickleuw)

 

Gereja Wulurat Kei Besar 2

Gedung Gereja Katolik St. Antonius De Padua Ohoi Wulurat tampak dari samping (Foto: Tarsy Temorubun).