Peringati Hari Anti Narkoba Internasional, BNN Kota Tual Orasikan Keselamatan Kaum Milenial

Category: Sosial

 

Penulis Gerry Ngamel, editor Labes Remetwa

 

“Saya meyakini bahwa kita semua berhutang pada generasi milenial. Berhutang untuk melakukan satu tindakan pencegahan, serta berhutang pula untuk menjaga generasi kedepannya agar tidak hancur karena narkoba”, ujar Abdul Rahman H. Rahayaan dalam orasi BNN.

Kantor BNN Kota Tual

Kantor BNN Kota Tual.

 

Tual, suaradamai.com – Dalam rangka menyelamatkan kaum milenial dari penyalahgunaan narkoba, sejumlah carapun dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tual. Salah satunya dengan menggelar orasi penanggulangan penyalahgunaan narkoba.

Orasi yang bertajuk “Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesai Emas” dikemukakan pihak BNN Kota Tual pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019, bertempat di Gedung Mitra Centre Tual, Senin (1/7/19).

Orator umum anti narkoba BNN Kota Tual Abdul Rahman H. Rahayaan dalam orasinya mengatakan, peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) sesungguhnya adalah wujud keprihatinan atas jatuhnya korban penyalahgunaan narkotika di Indonesia yang semakin hari semakin meningkat dan telah turut merenggut banyak korban. Selain itu, semakin hari jenis narkotika semakin banyak dan semakin haripun semakin banyak modus-modus operan yang dilakukan oleh para oknum-oknum penyebar kokain, ganja dan lain sebagainya.

Rahayaan menyebutkan, atas penyalahgunaan narkotika di Indonesia, dalam sehari bisa didapatkan sekitar 30 korban terkapar dan mati sia-sia. Sementara, setiap tahunnya di Indonesia dapat menghabiskan hampir Rp60 Triliun hanya untuk biaya merehabilitasi para korban penyalahgunaan narkotika.

Rahayaan mengungkapkan, salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah generasi milenial. Dimana yang berada pada rentang usia 15 hingga 35 tahun.

“Generasi Milenial atau yang juga dikenal generasi Y kerap digolongkan sebagai kaum muda. Dalam lingkaran usia ini, sangatlah produktif dan rentan terhadap penyalahgunaan narkotika dan kenakalan remaja dan lain sebagainya”, ungkap Rahayaan.

Lebih lanjut ia katakan, menurut para ahli sosiologi Wiliam Straus dan Lil hout bahwa ciri-ciri daripada generasi milenial, diantaranya adalah berusaha untuk selalu terkoneksi dengan dunia maya. Pada eksistensi sosial ini, biasanya akan ditentukan berdasarkaan banyaknya like atau jumlah followers pada media sosial seseorang.

Terlahir pada era globalisasi, kata dia, membuat kaum milenial memiliki keunggulan yang lebih dalam terhadap penguasaan dan adaptasi teknologi. Derasnya arus informasi dan kemudahan dalam mengakses informasi menjadi tantangan tersendiri bagi milenial dalam menyaring informasi.

Pada situasi ini, Rahayaan menilai sisi buruk daripada kaum milenial bisa saja muncul. Akibatnya milenial cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama, mengejar nilai-nilai kebebasan, kesenangan dan pergaulan bebas yang dapat mendorong kaum milenial terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

Menyikapi kondisi ini Rahayaan mengungkapkan, Presiden RI Joko Widodo telah menyatakan darurat narkoba dan perang terhadap para bandar narkoba. Pernyataan tersebut telah berulang kali disampaikan. Oleh karena itu harus bisa dilakukan upaya yang bijak dalam pemberantasan penyalahgunaan narkotika.

Bentuk upaya dan dukungan masyarakat menurut Rahayaan adalah dengan menggerakan potensi seluruh lapisan masyarakat dalam berperan aktif menciptakan generasi yang bersih tanpa narkoba, merekatkan sinergitas lembaga pemerintah dalam bidang P4GN, dan mencetakan generasi yang anti narkoba yang handal dan berkualitas.

“Kemudian menginspirasi program P4GN yang terukur, efektif dan produktif. Membangun kemantapan sikap dan kekuatan karakter dalam menghadapi gencarnya bahaya narkoba. Menghadirkan influencer bagi kaum milenial, menghadirkan tokoh panutan atau seseorang yang bisa milenial contohi untuk kemudian diberikan pesan-pesan anti narkoba”, ungkapnya.

Rahayaan menambahkan, untuk membuka wawasan, menambah pengetahuan, dan meningkatkan kesadaran kaum milenial dalam pentingnya perilaku hidup sehat tanpa menyahlagunakan narkoba, perlu memberikan wadah pada kaum milenial untuk mengekspresikan dirinya.

“Generasi milenial merupakan calon pemimpin bangsa. Sehingga kegagalan dalam mendidik mereka, sama halnya dengan kegagalan dalam membangun bangsa, karena ada dasarnya keutamaan yang paling pokok untuk menjadikan mereka sebagai generasi unggul adalah kemantapan sikap dan kekuatan karakter mereka dalam menghadapi gencarnya penyalahgunaan narkotika”, tegasnya.

Rahayaan menyatakan, dengan kewenangan, kemampuan, dan kepercayaan yang diberikan oleh negara melalui undang-undang atau regulasi-regulasi landasan hukum yang sudah diterbitkan oleh negara, bersama BNN dan semua elemen masyarakat harus melakukan terobosan-terobosan baru di tahun 2019 agar semua langkah yang telah dilakukan selama ini bisa menghasilkan sesautu yang nyata dan riil.

“Saya meyakini bahwa kita semua berhutang pada generasi milenial. Berhutang untuk melakukan satu tindakan pencegahan serta kita berhutang pula untuk menjaga generasi kedepannya agar tidak hancur karena narkoba”, tandas sang orator.