Dr. Rahawarin: Local Wisdom Kei Bisa Menjadi Model Sistem Pemerintahan Adat di Indonesia

Category: Sosial

Reporter: Nick Renleuw. Editor: Nick Renleuw

Dr. Zainal Abidin Rahawarin

Dr. Zainal Abidin Rahawarin, M.Si ketika diwawancara awak media usai seminar (Foto: Nick Renleuw).

 

Tual, suaradamai.com - Pemerintah Kota Tual melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) mengundang Dr. Zainal Abidin Rahawarin, M.Si sebagai pembicara dalam seminar penguatan budaya lokal Kei dengan tema Monarki Dalam Sistem Pemerintahan Adat Kei, Suatu Tinjauan Hukum Adat Larvul Ngabal dan Desentralisasi Pemerintahan Desa di Aula Kantor Walikota Tual pada Senin (20/05/2019) sore.

Rahawarin menjelaskan bahwa kegiatan seminar tersebut sebetulnya memiliki sebuah pilihan tema yang sangat luar biasa. Baginya, tema tersebut menegaskan bahwa local wisdom atau pemerintahan adat yang dimiliki oleh Kei adalah sebuah sistem pemerintahan adat yang pada zamannya sudah sangat maju dan setara dengan sistem pemerintahan adat monarki yang ada di dunia.

“Dan itu sangat diapresiasi para ilmuwan untuk mau mengangkat ini untuk menulis secara publish baik di nasional maupun di internasional. Nah kami kebetulan datang dari Ambon untuk dalam rangka penelitian tentang ini,” ungkapnya kepada awak media usai kegiatan tersebut.

Ia sangat berharap agar baik Pemerintah Kota Tual maupun Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dapat memfasilitasi lebih lanjut topik-topik yang di perdebatkan dalam forum diskusi. “Tadi di forum berkembang bahwa bukan hanya sekadar data yang diambil di sini tapi ya mungkin juga kita ada kita ke Belanda, Amsterdam untuk ambil data di sana sehingga menjadi sebuah pengayaan yang sangat luar biasa terhadap local wisdom Kei ini yang punya budaya yang sangat maju luar biasa,” tandasnya

Dengan demikian, lanjutnya, local wisdom Kei ini bisa dipublikasikan untuk diketahui oleh semua orang dan bahkan bisa menjadi model dalam sistem pemerintahan adat di Indonesia. Menurutnya, undang-undang memberikan ruang kepada pemerintahan adat untuk melahirkan perda-perda (peraturan daerah) yang terkait dengan sistem pemerintahan adat itu sendiri dan sistem pemerintahan desa itu juga.

“Jadi ini sebetulnya sesuatu yang sudah bagus untuk pemerintah pusat memberikan jalan kepada pemerintah daerah untuk melahirkan sistem-sistem pemerintahan yang baik, punya nilai-nilai yang baik terkait dengan adat yang berlaku di daerah itu sendiri,” jelasnya.

Selain itu, Rahawarin juga berharap agar kegiatan seminar ini dapat dijadikan semacam langkah awal. Dan ia berharap setelah itu dapat diundang lagi untuk pendalaman atau pembahasan lebih dalam lagi dengan semua pihak baik dari Kabupaten Malra maupun Kota Tual dengan melibatkan seluruh raja-raja yang ada.

“Tujuannya adalah berbagai persepsi terkait dengan penulisan sejarah Kei itu khususnya tentang Larvul Ngabal yang berbeda tadi (dalam forum diskusi) itu kita satukan kemudian kita bukukan menjadi satu katakanlah kitab suci orang Kei. Tetapi kembali lagi kepada pemerintah daerah sejauh mana mereka bisa membantu dalam hal penulisan dan penelitian ini,” harapnya.

Rahawarin mengaku belum mengikat kerjasama jangka panjang dengan Pemkot Tual dalam hal kelanjutan kegiatan ini. Meski demikian, ia mengapresiasi Pemkot Tual khususnya walikota dan sekda yang menurutnya sangat respek dan antusias untuk mengadakan kajian tentang penguatan budaya lokal dalam seminar yang baru berlangsung ini.

“Nah harapan kami mungkin setelah walikota kembali ini juga akan ada tindak lanjut bukan hanya sekadar terbatas sampai sini sebab kalau pun saya akan menulis dalam bentuk buku kemudian sasaran utama kita itu adalah menulis dalam bentuk jurnal internasional, Indonesia dan dunia akan tahu bahwa sebetulnya bukan saja sistem monarki itu berlaku di negara-negara modern tetapi di distrik kabupaten bahkan desa wilayah Kei yang ada ini juga mempunyai sistem yang sama dengan diterapkan di negara-negara di luar sana,” pungkasnya.

 

Berita lainnya:

- Perkuat Budaya Lokal, Pemkot Tual Gelar Seminar Adat

- Logo Larvul Ngabal

- Huwear Balwarin

- Hawear ataukah Huwear, Makna Kemartabatan