Lewat Liturgi Gereja, Bahasa Kei Hidup Kembali

Category: Budaya Kita

Penulis Gerry Ngamel

Misa Kudus menggunakan Bahasa Kei terbukti menghasilkan kesejukan hati, ketenangan batin, dan sungguh-sungguh khusyuk dalam berdoa.

Bahasa Kei-Misa Kudus Berbahasa Kei

Suasana Perayaan Ekaristi Kudus Berbahasa Kei di Stasi Ohoidertutu

 

Langgur, suaradamai.com – Bahasa Kei yang mulai tergusur oleh arus zaman, dihidupkan kembali lewat perayaan liturgi Gereja. Gereja adalah misioner, untuk itu Gereja akan mensosialisasikan penggunaan Bahasa Kei dalam perayaan ekaristi di Keuskupan Amboina, khususnya Kei.

Demikian disampaikan oleh Pastor Hans Rettob, MSC saat diwawancarai awak media ini usai Perayaan Ekaristi Kudus dalam Bahasa Kei di Stasi Ohoidertutu beberapa waktu lalu.

“Sudah lama sekali, bahasa Kei jarang dipakai dalam acara-acara besar, dimana banyak orang berkumpul, apalagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Oleh karena itu kami merasa terpanggil untuk menggagas beberapa acara untuk menghidupkan kembali bahasa Kei, antara lain yakni lewat Liturgi, lewat Ibadah,” papar Rettob.

“Kita membuat perayaan Ekaristi dalam bahasa Kei, mulai dari awal, doa-doa, lagu puji-pujian, renungan, dan seluruh pengumuman dari awal sampai ahkir,” imbuhnya.

Rettob katakan, perayaan ekaristi dalam Bahasa Kei bertujuan untuk menjadi pembelajaran, mengingat kembali, dan menghidupkan kembali Bahasa Kei sebagai bahasa tutur.

Dalam upaya iniliah, misa ekaristi Bahasa Kei bukan saja baru dilaksanakan di Stasi Ohoidertutu, tetapi telah dilaksanakan sejak bulan Juni 2018 lalu di beberapa Stasi dan Paroki yang ada di Maluku Tenggara dan Kota Tual.

“Kita sudah mulai dari semua stasi yang ada di Paroki Namar dan juga di Paroki Tual, yakni di Stasi Dullah Laut. Dan hari ini kita mendapatkan kesempatan pertama di Stasi Ohoidertutu,” ungkap Rettob.

Kondisi bahasa Kei yang semakin memudar dalam penggunaanya sehari-hari oleh masyarakat Kei sendiri, memicu timbulnya rasa kekhawatiran bagi pihak Gereja. Gereja takut Bahasa Kei sebagai bahasa tutur perlahan-lahan hilang. Oleh karena itu kelompok yang peduli dengan bahasa Kei ini mencoba untuk menghidupkan kembali lewat liturgi Gerejani.

Di tempat terpisah, A Lobya mengungkapkan bahwa dirinya merasa cukup bangga dengan cara ini. Ia aktif mengikuti misa dalam Bahasa Kei sejak Juni 2018 lalu. Ia mengaku respon umat cukup baik.

Walaupun demikian, Lobya akui persiapan melaksanakan misa dalam bahasa Kei di beberapa stasi masih kurang maksimal. Ada sebagian yang acuh tak acuh dengan proses persiapan. Meskipun begitu, ada juga yang sangat luar biasa.

“Yang kita temui, umat tidak siap. Tidak siap artinya teks (pedoman peribadatan) yang kami kirim itu orang tidak terlalu hiraukan. Ada stasi yang teksnya telah kami kirim 2 minggu sebelumnya, ternyata pada pelaksanaannya kami sendiri yang ambil alih. Tetapi ada sebagian besar stasi yang siap betul. Satu contoh seperti Stasi Lairngangas, dimana seluruh umat terlibat dengan menggunakan pakian adat,” ungkap Lobya.

Sementara itu, Pastor Paroki Ohoidertutu Fery Jamlean, Pr bersama umat stasinya merespon baik upaya menghidupkan kembali Bahasa Kei ini. Menurutnya, perayaan seperi ini membuat umat berdoa lebih sungguh-sungguh dan penuh khusyuk.

“Perayaan sabda atau ekaristi saat dipakai bahasa kei rasa menyentuhnya itu lebih, sungguh menyentuh hati umat,” kata Jamlean.

“Bahkan ada kerinduan umat agar perayaan seperti hari ini dapat dilaksanakan lagi di stasi/paroki ini, dan buku-buku liturgi dalam bahasa Kei dicetak lebih banyak lagi. Umat merindukan untuk memiliki itu,” tambahnya.

Jamlean merasakan adanya perbedaan antara penggunaan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Kei. Bahasa Kei menghasilkan ketenangan dalam liturgi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tily Kameubun, seorang Koster (pelayan Gereja).

“Untuk kali ini sangat berbeda sekali dengan misa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ada ketenangan tersendiri dalam perayaan misa bahasa Kei ini, bahkan bagi saya muncul kesedihan saat dengan penuh hikmah mengikuti setiap prosesnya. Kesedihan ini bukan karena sedih apanya, tapi sedih sukacita bisa dengan hikmah merenungkan kidung pujian, bacaan-bacaan, renungan yang semuanya menggunakan bahasa Kei. Pokoknya ada sesuatu yang berbeda sampai hari ini saya harus meneteskan air mata di dalam Gereja,” ungkap Kameubun.

Kepada awak media ini melalui telepon seluler (22/1/19), Robertus Remetwa katakan, dalam diskusi lepasnya bersama Beno Mairuma, putera asal Ohoiren, pemerhati adat Kei yang saat ini berdomisili di Surabaya, menganggap bahwa Bahasa Kei adalah Bahasa Roh.

 

Berita lainnya:

Ev’art: Melestarikan Budaya Evav Lewat Hip hop

Merawat Situs, Memelihara Budaya: Pemuda Ohoililir Bersihkan Lokasi Wear Butri dan Kampung Tua

Hawear ataukah Huwear, Makna Kemartabatan

Met Ef

Bupati Malra: Kalau Ketemu Saya pada Hari Jumat, Harus Berbahasa Kei