Breaking News

Enbal Dipromosikan di China. Rahayaan Minta Pemda Malra Tetapkan Harga Barang

Print

Sumber Maluku Antarnusa, Daniel Mituduan, penyunting Linus Remetwa

Nominasi-Makanan-Tradisional-Enbal

Enbal, makanan khas Kei (Dok. Evav.co)

 

Langgur, suaradamai.com – Enbal merupakan makanan asal Maluku yang rendah kadar gula dan sangat diminati di Pasar Cina. Baru beberapa bulan dipromosi di Pasar Cina, produk makanan asal Maluku ini sudah mendapat respon positif.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Mongolia, Djauhari Oratmangun menyampaikan, produk makanan dan minuman asal Indonesia sangat laku di Pasar Cina, termasuk kopi dan sarang burung walet.

Hal tersebut diuraikan Oratmangun saat audiens dengan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan para para investor asal Cina di Ambon baru-baru ini.

 

Baca juga: Mimpi Sukses Usaha Enbal

 

 

Dijelaskan, Enbal yang merupakan produk makanan asal Kepulauan Kei itu harus diperbaiki kemasannya agar lebih menarik. Bila hal tersebut dapat dilakukan, Oratmangun optimis Enbal akan menjadi salah satu ikon produk makanan asal Maluku yang mengglobal terutama di China.

“Di sana kan ada 1,5 milyar orang. Dengan tingkat kemajuan ekonominya, mereka juga ingin merasakan rasa (kuliner) dan tempat-tempat berkunjung yang baru. Mungkin ini salah satu cara mereka mengetahui makanan ini (Enbal) dari Kei, mungkin mereka bisa berkunjug ke sana (Kei),” ujar Oratmangun.

Salah satu pelaku usaha di daerah ini, Gery Hukubun menjelaskan, bila enbal diproduksi secara besar-besaran dalam kemasan yang baik, maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Harapan saya ini menjadi starting point (lompatan awal) yang sangat bagus, terutama Enbal, dan makanan tradisional lain juga yang bisa kita angkat. Berawal dari Enbal, makanan lain juga kita akan angkat dan juga ambil semua Pasar Cina untuk memperhatikan kita Maluku,” jelas Hukubun.

Hukubun optimis, Maluku nantinya dikenal dunia melalui produk makanan enbal apabila diolah dengan baik, sehingga bisa menghasilkan kualitas dengan rasa yang enak dan gurih.

 

Baca juga: I Love Langgur, Icon Baru Bumi Larvul Ngabal

 

Sementara itu, persaingan harga yang digencarkan para pedagang Pasar Langgur sering kali merisaukan masyarakat maupun pengusaha dan pedagang lainnya dalam menjual/mendistribusikan dagangan. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan para pedagang dalam menentukan harga barang yang dipasarkan, sehingga sulit untuk dikendalikan dari tahun ke tahun.

Demikian disampaikan Melania Rahayaan (50), seorang pedagang enbal gepe maupun enbal bakar asal Ohoi Wain Kei Kecil Timur saat diwawancarai awak media ini di Pasar Langgur Maluku Tenggara (Malra) Senin, (15/10/18).

Menurut Rahayaan, sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang penetapan harga dagangan di pasar. Selain itu harus diberlakukan peraturan harga jual beli antara penjual dan pembeli dalam menjual atau mendistribusikan dagangan agar tidak mengambil untung yang melebihi batas penentuan.

Kata Rahayaan, harga dagangan di Pasar Langgur tidak menentu dari hari ke hari maupun dari tahun ke tahun. Hal itu disebabkan karena penjual sangat banyak.

Rahayaan menambahkan, perkembangan harga barang di Pasar Langgur terus meningkat, salah satunya yaitu pangan lokal enbal khususnya enbal mentah (Gepe) yang pada beberapa bulan terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup pesat.

“Tadinya harga antara Rp50.000-Rp100.000/gepe, drastis meningkat hingga Rp150.000/gepe,” ungkap Rahayaan.

 

Baca juga: Larvul Ngabal: Keunikan Adat, Keunikan Pariwisata

 

Hal senada disampaikan Ati Lefteuw (61). Penjual enbal bakar (bunga) asal Ohoi Loon ini mengatakan, dia mempunyai tanaman enbal yang sudah siap untuk dipanen saat musim hujan nanti. Lefteuw menambahkan, walaupun harga enbal mentah meningkat sampai Rp150.000/gepe, mau tidak mau dia tetap membeli untuk menjalankan usahanya.

“Harga kebutuhan pokok pangan enbal saat ini rata-rata terdiri atas Rp100.000, Rp130.000, dan Rp150.000/gepe, sedangkan enbal bakar yang telah terbungkus dijual dengan harga Rp10.000/4 lempeng,” sebut Lefteuw.

Lefteuw ungkap, biasanya pada awal pekan, hari senin, pedagang menaikan harga enbal. Harga enbal cepat berubah, tergantung ketersediaan di pasar. Jika enbal kurang, harga tinggi, begitupula sebaliknya.

Sementara itu, Benediktus Fadirubun (63) seorang pembeli enbal asal Ohoi Ngayub menyampaikan, harga kebutuhan pangan lokal enbal meningkat akhir-akhir ini. Fadirubun sebut, sebelumnya harga enbal bunga Rp5.000/3 lempeng, sekarang menjadi Rp10.000/4-5 lempeng.

Sedangkan enbal mentah (enbal gepe) dulu Rp50.000/gepe namun saat ini meningkat menjadi Rp100.000-Rp150.000/gepe.

 

Baca juga: Logo Larvul Ngabal

 

Selain itu, Melania Rahayaan merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi pasar hari ini. Dia mengaku, dirinya jarang membawa dagangan ke pasar karna harga pasar tidak menentu dan belum pasti dapat menjamin kehidupan keluarga. Rahayaan mengaku, dia biasanya menjual enbal kepada keluarga dekat yang merupakan pelanggan/papalele, baik yang berada di Malra maupun di luar daerah.

 

Lebih lanjut Rahayaan menambakan, pemerintah hendaknya melihat berbagai permasalahan yang ada di wilayah ini teristimewa dalam mendukung perkembangan pasar, merancang perda yang mengatur tentang penetapan harga, agar masyakat dan pedagang dapat mengetahui keuntungan dari penjual maupun papalele.