Berdialektika untuk Evav

Category: Advertorial

 

(Editorial Koran Pilar Timur Edisi 66, 10 September 2019)

 

Inovasi dan terobosan budaya yang dihadirkan pemerintah daerah baik di Kabupaten Maluku Tenggara maupun Kota Tual telah membawa angin segar bagi publik di Kepulauan Kei. Pemkab Malra telah mencetuskan tanggal 7 September sebagai peringatan Nen Dit Sakmas yang kemudian dimeriahkan dengan sejumlah kegiatan. Napak tilas perjalanan serta perayaan puncak peringatan Nen Dit Sakmas adalah dua kegiatan yang paling mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat. Sementara Pemkot Tual juga konsisten menggelar Safari Adat ke desa-desa dalam wilayah pemerintahannya. Semua program terobosan ini bertujuan terutama untuk menggali kembali akar budaya sebagai upaya menemukan jati diri sebagai orang Kei.

Bersama dengan pro-kontra yang menyertainya, inovasi dan program yang dicetuskan telah membangkitkan kembali ruang dialektika di tengah masyarakat. Publik Kei memperdebatkan banyak hal di media sosial, mulai dari keabsahan penetapan tanggal peringatan perayaan Nen Dit Sakmas, pihak-pihak yang seharusnya dilibatkan dalam napak tilas, pakaian adat yang representatif, bahkan tentang asal usul orang Kei. Memang perdebatan semacam ini sering terjadi, tetapi sejumlah program inovasi yang dihadirkan telah memantik proses dialektika tersebut berlangsung kembali dengan masif.

Yang mungkin perlu kita kritisi adalah debat-debat semacam ini yang berlangsung di media sosial sifatnya seringkali berlangsung tanpa ujung pangkal dan tidak ada tindak lanjutnya. Tidak heran, meski ada banyak pihak yang punya argumen rasional, debat-debat di media sosial seringkali disebut sebagai debat kusir karena memang tidak pernah jelas mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan, bukan tidak mungkin pula debat kusir semacam ini hanya akan semakin menuntun orang untuk jatuh pada kesesatan berpikir: menentukan benar salahnya sebuah argumen hanya berdasarkan siapa yang berbicara, bukan atas dasar rasionalitas argumen atau bukti-bukti yang dimiliki.

Pertanyaannya, sampai kapan debat kusir semacam ini terus berlangsung? Sementara pihak-pihak yang merasa hak-hak sejarahnya terabaikan, tidak pernah diakomodir oleh pihak-pihak yang dianggap berwenang. Hal positif dari fenomena debat kusir di media sosial adalah bahwa ternyata antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk menggali identitas jati dirinya sebagai sebenar-benarnya orang Kei. Antusiasme semacam ini perlu dirawat dan diwadahi dalam forum-forum diskusi dan debat resmi di kehidupan nyata.

Memang bukannya tidak pernah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah bahwa forum-forum diskusi dan dialog tentang berbagai aspek budaya Kei yang berlangsung selama ini di kehidupan nyata toh tidak jauh berbeda dengan debat kusir yang terjadi di dunia maya. Maka sekali lagi, sudah saatnya pemerintah daerah lebih memfasilitasi ruang dialog yang terstruktur, sistematis, masif dan menyeluruh dengan manajemen dan dokumentasi serta literasi yang solid. Upaya ini penting guna meminimalisir berbagai penyimpangan sejarah yang bisa saja terjadi karena kelalaian berbagai pihak. (NR)

 

Dapatkan Koran Pilar Timur Edisi 66, 10 September 2019

Ok

Hubungi No HP: 0812-4791-6759 (David) atau langsung ke Kantor Redaksi Pilar Timur di Jalan Langgur - Kolser (500 m dari STIA Langgur)