Ratapan Ribuan Warga Timika Iringi Pemakaman Uskup Saklil

Category: Sosial

 

Penulis: Nick Renleuw (dari berbagai sumber). Editor: Nick Renleuw.

 

Uskup Saklil tidak hanya berjasa bagi Gereja Katolik, tapi bagi seluruh rakyat Papua. Ia berbicara tentang isu-isu publik yang melampaui sekat-sekat agama.

Mgr. John Saklil

Mgr. John Philip Saklil

 

Timika, suaradamai.com - Ratapan ribuan warga Timika mengiringi jenazah Mgr. Johanis Philipus Saklil ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Uskup Timika sekaligus Administrator Apostolik Sede Plena Keuskupan Agung Merauke yang wafat pada Sabtu (03/08/19) lalu dimakamkan di Pemakaman Imam-Imam Diosesan di belakang Rumah Keuskupan Timika pada Rabu (07/08/19).

Misa pemakaman Mgr. Saklil dimulai pukul 12:00 WIT berlangsung di Gereja Katedral Tiga Raja Timika. Ketua Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignasius Suharyo bertindak langsung sebagai Selebran (Pemimpin Misa) Utama didampingi 4 uskup lainnya dan hampir seratusan pastor, serta dihadiri ribuan umat Katolik dan warga Timika.

Misa diawali dengan pembacaan riwayat hidup Mgr. Saklil. Usai misa pemberkatan jenazah, diberikan kesempatan untuk penyampaian sambutan-sambutan dan penghormatan terakhir kepada jenazah. Selanjutnya, sekitar pukul 15:30 WIT jenazah diarak oleh ribuan umat Timika menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Penghormatan Jenazah John Saklil

Ribuan warga Timika memberi penghormatan terakhir pada Jenazah Mgr. John Philip Saklil di halaman Gereja Katedral Tiga Raja.

 

Riwayat Hidup

Johanis Philipus Saklil atau John Philip Saklil lahir di Kokonau pada 20 Maret 1960. John Saklil adalah anak ke-4 dari 10 bersaudara, dari pasangan (Alm.) Krisantus Saklil dan (Alm.) Yosefina Rahangmetan.

Lulus dari SMA, Mgr. Saklil melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT-FT) Abepura pada tahun 1979 hingga meraih gelar S1 dan Pasca Sarjana pada 1986. Dalam masa pendidikan ini, beliau menjalani Tugas Orientasi Pastoral (TOP) selama 1 tahun di Nabire. Uskup Saklil lalu melanjutkan Studi Teologi Pastoral di Manila dari tahun 1993-1996.

Putra terbaik Ohoi (Desa) Ohoiel – Maluku Tenggara ini bergabung ke dalam Hierarki Gereja Katolik usai menerima tahbisan Diakonat pada 17 April 1988 di Gereja Tiga Raja Timika. Tahbisan Imamatnya diterima di Gereja Kristus Terang Dunia Jayawijaya pada tanggal 23 Oktober 1988. Kedua tahbisan ini diterimanya dari Mgr. Herman Münninghoff OFM.

Mgr. Saklil ditunjuk sebagai Uskup Pertama Keuskupan Timika pada tanggal 19 Desember 2003 dan ditahbiskan pada tanggal 18 Aril 2004 di Gereja Katedral Tiga Raja Timika oleh Mgr. Leo Laba LadjarOFM. Pada 27 Juli 2019, Mgr. Saklil baru saja ditunjuk Paus Fransiskus sebagai Administrator Apostolik Sede Plena Keuskupan Agung Merauke.

Penghormatan Jenazah John Saklil 2

Jenazah Uskup Saklil dihantar ribuan warga Timika ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

 

Pejuang Hak Asasi Warga Papua

“Hai masyarakat Papua! Hidup bukan hanya dari hasil jual tanah tetapi hidup dari hasil olah tanah. Ko jual tanah ko jual generasi! Jangan jual dusun sagu! Jangan jual dusun berkebun! Kalau dusun sagu hilang ko makan kelapa sawitkah? Kalau dusun berkebun hilang ko tau tanam padikah?” Demikian cuplikan salah satu pernyataan legendaris yang pernah diucapkan Mgr. Saklil. Semasa hidupnya, Uskup Saklil memang tegas memperjuangkan hak asasi warga asli Papua.

Ketegasan sikapnya itu juga tampak misalnya ketika bulan lalu, ia melayangkan protes keras kepada Pemerintah Kabupaten Mimika yang akan menarik guru-guru PNS dari sekolah swasta, hal yang ia sebut akan merugikan warga asli Papua. Ia juga kerap mengkritik militer dan polisi dalam kasus kekerasan terhadap warga sipil

Saat tahun 2017 pemerintah Indonesia sedang melakukan renegosiasi terkait kepemilikan saham dengan perusahan tambang emas PT Freeport yang beroperasi di wilayahnya, ia menemui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignatius Jonan, memintanya memperhatikan hak-hak masyarakat asli Papua.

Pastor John Djonga Pr, aktivis HAM Papua mengatakan kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar di tengah perjuangan melawan pelanggaran hak asasi warga Papua. Ia menggambarkan Uskup Saklil tidak hanya berjasa bagi Gereja Katolik, tapi bagi seluruh rakyat Papua. “Ia berbicara tentang isu-isu publik yang melampaui sekat-sekat agama,” katanya.

Frits Ramandey dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Wilayah Papua menyebut Uskup Saklil sebagai sosok yang selalu berada di garis terdepan untuk membela hak masyarakat yang termarginalkan baik secara ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan.

 

Requiescat in Pace “Gaiyabi”

Semasa hidupnya, oleh masyarakat setempat Uskup Saklil diberi gelar terhormat dengan sebutan Gaiyabi. Menurut Sekjen Keuskupan Timika Pastor Andreas Matius Riyanto, Gaiyabi dapat diartikan sebagai konseptor, pembebas, penyelamat, pemersatu, perencana, pelindung, motivator dan fasilitator bagi umatnya.

“Kalau Tuhan hadir secara ragawi, saya hanya minta satu hal: kasih bangkit MGR! Kami masih sangat membutuhkanmu. Doa-doa dan kehadiran para uskup, imam, biarawan/wati, umat dari berbagai suku bangsa hanya mengiringi kepergianmu. Andai ada kuasa yg menghidupkan raga kembali seperti sedia kala,” Robby Kelley Lefteuw, salah seorang Katekis (Guru Agama) yang berkarya di Keuskupan Timika. Ungkapan ini menggambarkan betapa berdukanya warga Timika atas kepergian Uskup Gaiyabi yang sangat dicintai.

Ronny Nakiaya, umat Paroki Katedral Tiga Raja Timika mengatakan, umat dari kampung-kampung berbondong-bondong datang untuk melihat uskup mereka untuk yang terakhir kali. “Umat mencintai dia. Dia pejuang bagi rakyat Papua. Kami sulit percaya bahwa ia bisa pergi secepat ini. Kami kehilangan tokoh yang memiliki hati untuk orang Papua. Tidak banyak tokoh agama yang mengambil jalan seperti beliau,” katanya.

Meski diliputi dukacita yang mendalam, Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Timika dan Papua Pastor Dominikus Hodo mengajak setiap umat Katolik dan warga masyarakat Papua untuk mengikhlaskan kepergian Uskup Saklil. “Seluruh umat harus menerima bahwa Tuhan lebih mencintai dia, kita mencintai Uskup tetapi Tuhan lebih mencintai dia,” imbuh Pastor Domi.

Requiescat in pace et vivat ad aeternam Monseignor Saklil!