Tentang Perdebatan Seputar Khazanah Pakaian Adat Evav

Category: Asal Usul

 

Pakaian adat dipahami sebagai kostum yang mengekspresikan identitas yang biasanya dikaitkandengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Perdebatan terkait corak pakaian adat Evav mengindikasikan bahwa setiap pemerhati budaya dan pemangku adat serta pemerintah daerahsudah seharusnya duduk dan menetapkan khazanah berpakaian adat ala masyarakat suku bangsa Kei.

Corak pakaian masyarakat Kei pada masa kolonial Belanda

Corak pakaian masyarakat Kei pada masa kolonial Belanda (Foto: Dok. H. Geurtjens).

 

Langgur, suaradamai.com – Selepas pelaksanaan napak tilas Nen Dit Sakmas beberapa waktu lalu, beberapa hal kemudian menjadi topik pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara. Salah satunya terkait dengan penggunaan pakaian adat Bali yang dikonversikan sebagai pakaian adat Evav. Perdebatan tentang khazanah berpakaian adat Evav telah menjadi trending topic di media sosial Facebook sepekan terakhir.

Dalam konteks beberapa pengertian, Pakaian adat dipahami sebagai kostum yang mengekspresikan identitas yang biasanya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Pakaian adat juga menunjukan status sosial, perkawinan. Biasanya pakaian adat pada konteks masyarakat tertentu hadir sebagai karya asli dari masyarakat setempat.

Beberapa pihak terkesan menolak pengenaan pakaian adat Bali yang dikonversikan oleh PemerintahDaerah Kabupaten Maluku Tenggara sebagai pakaian adat khas Kepulauan Kei. Jika ditilik dari sejarahmasuknya penduduk di Kepulauan Kei, selain penduduk lokal yang telah lama mendiami kepulauan Kei,mayoritas masyarakat Evav berasal dari luar Kepulauan Kei (Maf-Mafan), atau dalam konsep kosmologiKei dimengerti sebagai negeri bayangan, negeri para dewa.

Berdasarkan pada tradisi lisan, sebagian penduduk Evav mengaku berasal dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara,Luang (Maluku Barat Daya), dan daerah lainnya di Nusantara. Catatan sejarah pada dinding goa diOhoidertawun menandakan bahwa Kepulauan Kei sejak ribuan tahun lalu telah didiami oleh pendudukdengan latar belakang kebudayaan Melanesia.

Masuknya penduduk dengan latar belakang budaya yang berbeda di Kepulauan Kei mengharuskanadanya pembauran kebudayaan, termasuk didalamnya tentang corak berpakaian.Kendati demikian, sangat sulit menemukan konteks berpakaian yang cocok mengekspresikan identitas, wilayah geografis, serta periode sejarah yang menjadi karya asli masyarakat suku bangsa Kei.

Beberapa pihak yang kemungkinan secara historis berasal dari Bali dalam beberapa komentar di media sosialnya terkesansetuju dengan pengenaan pakaian adat Bali pada pesta akbar peringatan sosok Nen Dit Sakmas. Tetapi,layakkah pakaian adat Bali disejajarkan dengan pakaian adat Evav yang mengekspresikan kerasnyakehidupan diatas batu karang dan kencangnya ombak laut, yang turut membentuk watak aslimasyarakat suku bangsa Kei yang keras? Ataukah khazanahberpakaian adat khas Bali mampu mewakilipluralitas keberagaman suku bangsa Kei yang berasal dari beberapa kebudayaan yang berbeda? Apakahpakaian adat yang ke-Bali-Bali-an merupakan karya khas penduduk Evav periode tertentu di masa lalu?

Sudahkah beberapa corak pakaian adat yang sempat dipakai telah mewakili setiap golongan masyarakat di Kepulauan Kei, atau justru menunjukan hegemoni kelompok tertentu di Kepulauan Kei? Semuapertanyaan yang muncul bermuara pada satu pertanyaan penting bahwa, apakah pakaian adat yangditampilkan sudah diterima oleh seluruh masyarakat adat suku bangsa Kei?

Aleks Lakesubun dalam akun Facebooknya bahkan mengusulkan agar karya pakaian khas leluhur berupa cawat yang terbuat dari kulit kayu dapat dimodifikasi menjadi pakaiaan adat khas Evav. “Pakaian adat orang Kei dari dulu adalah cawat dari kulit kayu yang dililit di bagian pinggul sampai ke paha bahkan sampai ke lutut untuk laki-laki dan perempuan. Juga dililit pada bagian dada. Ketika adapertemuan orang kei pada zaman dahulu selalu bepakaian cawat, tulisnya.

Sementara Amandus J. Balubun menekankan aspek fleksibilitas kreatifitas manusia dalam menentukan pakaian adat Evav. Menurutnya, budaya merupakan hasil kreatifitas manusia. Budaya bersifat dinamis dan selaluterbuka. Karena itu dirinya menilai bahwa budaya itu tidak bersifat statis dan absolut. Baginya, budaya, termasuk didalamnya konteks berpakaian adat, terbuka untuk selalu diperbaharui.

Terlepas dari pertanyaan dan pro kontra terkait pakaian adat Evav, pemerintah dan pemangku adatsudah selayaknya duduk bersama, dan membahas konteks pakaian adat Evav yang layak dan tepat yangsesuai dengan budaya, geografis, sosial kemasyarakatan dan periode sejarah di Kepulauan Kei.

 

Penari tarian adat tanam padi ladang

Salah satu corak pakaian adat Kei yang dikenakan para penari tarian adat tanam padi ladang dalam acara puncak peringatan Hari Nen Dit Sakmas (Foto: Piet Res).