Safari Adat Wujud Pengembalian Wibawa Para Raja

Category: Peristiwa Budaya

 

Reporter: Gerry Ngamel. Editor: Nick Renleuw

 

Safari Adat Kota Tual

Keempat Rat (Raja) yang wilayahnya berada dalam lingkungan Pemerintahan Kota Tual didampingi Walikota Tual Adam Rahayaan dan Wakil Walikota Tual Usman Tamnge ketika disambut masyarakat Desa Ohoitel (Foto: Gerry Ngamel).

 

Tual, PT – Pemerintah Kota Tual memulai rangkaian kegiatan Safari Adat dengan mengunjungi Desa Ohoitel Kecamatan Dullah Utara Kota Tual pada Senin (22/07/2019) sore. Pada kesempatan ini, Walikota Tual Adam Rahayaan dan Wakil Walikota Tual Usman Tamnge didampingi Raja Ohoitahait Hi. Husein Reniwuryaan, Raja Tetoad (Yarbadang) Sodri Renhoran, Raja Tual (TuvLe) Hi. Husein Tamher, serta Kapitan Dullah Moh. Saleh Rengur yang mewakili Raja Dullah (Baldu Hadat).

Turut dalam rombongan, Kabag Hukum Rini Atbar, Plt. Kasat Pol. PP Jamal Renhoat, Kapolsek Dullah Utara AKP. Hamid Siompo, Plt. BPMPD A. Notanubun, Kabag Humas Moksen Ohoiyuf serta OPD lingkup Pemkot Tual.

Dalam Safari Adat perdana tersebut, rombongan disambut dengan pengalungan bunga serta pemasangan gelang adat kepada para raja di depan Woma (Pusat Kampung). Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara ritual adat (Toar Taroman) oleh tetua adat Desa Ohoitel Hi. Idris Renwarin dan nyanyian adat (Wa’War) serta tarian adat. Kegiatan Safari Adat kemudian dilanjutkan di balai Desa Ohoitel.

Dalam arahannya, Walikota Tual Adam Rahayaan menyatakan bahwa pelaksanaaan Safari Adat perdana di Desa Ohitel merupakan bentuk dari realisasi janji kampanyenya bersama Wakil Walikota Usman Tamnge saat Pilkada tahun 2018 lalu.

“Sesuai visi-misi, yang mana sebagai Kepala dan Wakil Kepala Daerah Kota Tual, kami ingin melestarikan dan mengembalikan kembali jabatan adat di tengah masyarakat adatnya masing-masing,” ungkap Rahayaan.

Senada dengan itu, Walikota menyinggung tentang eksistensi atau keberadaan para raja di Wilayah Kota Tual yang saat ini telah hilang kewibawaannya sebagai seorang pemimpin adat di tengah masyarakatnya.

Menurut Walikota, hilangnya penghormatan bagi wibawa seorang raja dan memudarnya kepercayaan masyarakat atas kinerja raja sebagai pemimpin adat, berawal sejak jabatan raja yang turut merangkap jabatan kepala desa.

“Dulu para raja menjabat sebagai kepala desa, akhirnya para raja harus pergi urus beras raskin, uang subsidi dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang kemudian beranggap dan bertanya-tanya: kok raja di Kei ini urus beras raskin?” ucap Rahayaan.

“Kemudian pada era Pemerintahan Bupati A. Koedoeboen, posisi jabatan raja dan kepala desa telah dilepaspisahkan,” tambahnya. Meski demikian, Walikota tegaskan bahwa di era saat ini penghormatan terhadap kewibawaan para raja masih senantiasa dipertanyakan.

Untuk itu, agar dapat mengembalikan kewibawan para raja maka orang nomor satu Kota Tual ini mengajak masyarakat adat untuk kembali menganggap dan meyakini serta menghormati kedudukan para Raja sebagai pemimpin di tengah-tengah masyarakat adat.

“Kita yakini bahwa et besa yamad hir i, batang hir fo hir teten, u ya’an fo ra dir u fo nan batang et besa, ver i nan batang et besa (Mereka, para Raja, adalah bapak kita, jagalah mereka sebagai orang tua, biarkanlah mereka berdiri di depan dan menjaga kita, lewat setiap ucapan yang diucapkan,” tutur Rahayaan.

Terkait dengan eksistensi raja ini pula, Walikota katakan, Pilkades serentak bagi desa-desa yang ada di Kota Tual nantinya baru akan dilaksanakan pada tahun 2020. Sehingga untuk menjaga konstitusi adat dan segala persiapan Pemkot Tual dalam melakukan tahapan-tahapan Pilkades, maka kebijakan untuk merangkul para raja dalam melaksanakan proses ini yang diawali dengan safari adat merupakan langkah kebijakan yang dianggap paling tepat.

“Sebelum masuk ke tahapan itu, apa salahnya kita gandeng para raja dan melakukan kunjungan dari desa ke desa, agar melalui ini pula kami menyampaikan arahan, terutama bagi para Raja yang sesuai Perda harus merekomendasikan calon kepala desa yang berdasar pada hak kepemilikan yang pada nantinya dapat didudukkan sesuai ketentuan yang berlaku. Sehingga paling tidak, melalui proses ini pula sudah ada upaya untuk mengurangi perbedaan-perbedaan dalam tubuh masyarakat,” tegas Walikota.

Walikota berharap, bersama Pemerintahan saat ini, masyarakat berkomitmen untuk meletakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat Hukum Larvul Ngabal serta menghormati kedudukan para raja.

Te waid ya ban ma’mak he (Kalau tidak, adat sudah mulai tenggelam). Untuk itu, selaku generasi saat ini yang nantinya menanamkan warisan para leluhur bagi generasi selanjutnya, saya dan pak wakil memiliki pemahaman dan upaya yang baik bagi keberlanjutan generasi ini yang berdasar pada nilai-nilai hukum adat, sehingga kami sangat mengharapkan partisipasi dari semua masyarakat Kota Tual, karena tanpa kalian semua upaya ini kan sia-sia belaka,” pinta Walikota seraya meneteskan air mata.

Sementara pada kesempatan yang sama, Raja Ohoitahait dan Raja Tual mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Tual, dalam hal ini Walikota dan Wakil Walikota Tual yang mana melalui program Safari Adat, telah mengangkat kembali wibawa mereka sebagai para raja.

Am Rat-Rat i (Kami para raja ini) tidak ada apa-apa kalau tidak diprakarsai oleh Walikota dan Wakil Walikota. Jadi keberadaan kami di tengah-tengah masyarakat saat ini karena Walikota dan Wakil Walikota yang dalam diri mereka mengalir lar beb (darah) Kei, sehingga hari ini mereka telah mengangkat kembali derajat kami para raja di tanah Woma Tet Mas Ohoitel,” tandas Raja Tual Husein Tamher.