Bupati: Nen Dit Sakmas, Alasan Dibalik Tingginya Martabat Perempuan Evav

Category: Maluku Tenggara

 

Reporter Piet Res, editor Linus Remetwa

Sosok Nen Dit Sakmas merupakan salah satu alasan dibalik tingginya martabat perempuan. Nen Dit Sakmas adalah penggagas lahirnya hukum adat Larvul Ngabal, penata hidup suku Kei. Masyarakat diharapkan dapat mengaplikasikan perjalanan Nen Dit Sakmas dalam konteks hidup sebagai anak adat evav.

Kunjungan Bupati dan PKK ke Makam Nen Dit Sakmas

 Bupati dan Penggerak PKK diterima secara adat di Makam Nen Dit Sakmas. (Dok. Humas Malra)

 

Langgur, suaradamai.com – Bupati Maluku Tenggara Drs. M. Thaher Hanubun bersama penggerak PPK mengunjungi makam Nen Dit Sakmas, Senin (24/06/19). Kegiatan ini dilaksanakan atas prakarsa Bupati dalam upaya untuk mengangkat kembali nilai luhur dan tingginya derajat atau martabat kaum perempuan Evav.

Sosok Nen Dit Sakmas adalah salah satu penggagas lahirnya hukum adat Larvul Ngabal yang dipakai menata keteraturan hidup masyarakat Kei.

Menurut Bupati Hanubun, kunjungan bersama penggerak PKK ke makam keramat Nen Dit bertujuan agar masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara, khususnya perempuan Evav memahami, menyadari, dan menghayati perjalanan Nen Dit Sakmas sebagai tokoh perempuan peletak dasar hukum adat evav yang masih terjaga kelestariaannya hingga saat ini.

“Sebenarnya tujuannya kunjungan ini adalah agar orang Kei, khususnya perempuan Kei, menyadari dan kembali ke asal sejarah. Kembali ke asal berarti, sebagai orang Kei, dia tahu adat dan budaya setempat. Jangan hanya berkata bahwa kita ini anak adat. Anak adat itu, tergantung dari tingkah laku tindakan. Hai itu yang menentukan dia itu, anak adat atau tidak” tegas Bupati Hanubun.

Sebagai seorang Putra Kei, Hanubun ingin agar semua orang Kei tanpa terkecuali, memahami dengan benar, arti dan makna perjalanan Nen Dit Sakmas, yang melahirkan hukum penjaga keteraturan sosial, di Nuhu Evav. Oleh sebab itu, untuk menjaga kelestarian sejarah, pemerintah kabupaten Maluku Tenggara telah mengemas  sejarah Nen Dit Sakmas, dalam kurikulum pendidikan pada tingkat pendidikan dasar hingga menengah, melalui pelajaran muatan lokal.

Sebagai bentuk upaya untuk melestarikan sejarah, Hanubun berencana menata lokasi makam Nen Dit Sakmas agar menjadi lebih baik dan tentu saja berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat yang bermukim disekitarnya. Dengan konsep wisata sejarah, Hanubun berharap mendapat dukungan dari DPRD untuk membangun museum sejarah Nen Dit Sakmas sekaligus toko souvenir yang diperuntukan bagi para pengunjung yang mengunjungi.

“Kedepan saya ingin menata tempat ini, agar menjadi lebih rapi. Saya akan minta tolong dari DPRD, agar membantu menata tempat ini. Kalau direstui oleh pimpinan DPRD, kita akan buat museum dan toko souvenir disini, yang nantinya akan berdampak pada hidup ekonomi masyarakat disini”, ungkap Hanubun.

Kunjungan ke makam diawali dengan tail taroman (Red: doa adat) sebagai permohonan izin memasuki lokasi makam, yang dilaksanakan oleh tokoh adat dari ohoi Wain. Setelah doa adat, rombongan PKK dipandu oleh Bapak Valentinus Esomar (Penjaga makam) memasuki lokasi makam. Sampai di makam, sirih pinang sebagai bentuk persembahan diletakan diatas makam, sembari para pengunjung menyampaikan doa dan harapan. Selepas berkunjung, Bupati dan rombongan kemudian kembali ke Langgur pada pukul 17.15 WIT.