Abrasi di Pantai Wearhir Capai 10 Meter dalam Lima Tahun Terakhir

Category: Lingkungan Kita

 

Reporter Piet Res, editor Linus Remetwa

 

Abrasi atau pengikisan tanah oleh gelombang laut di pantai Wearhir, Belakang Gereja Katolik Taar telah mencapai 10 meter dalam 5 tahun terakhir. Rumah masyarakat dan bangunan publik terancam terkena dampak abrasi jika hal ini tidak segera ditindaklanjuti.

Abrasi Pantai

Ilustrasi Abrasi Pantai

 

Tual, suaradamai.com Aktivitas kapal motor yang lalu lalang di Teluk Rosenberg mengakibatkan abrasi pada Pantai Wearhir, belakang Gereja Katolik Taar. Pengikisan tanah oleh ombak air laut, semakin diperparah dengan aktivitas para penggali umpan pancing. Menurut masyarakat setempat, dalam setahun terakhir, abrasi pantai pada lokasi tersebut telah mencapai dua meter, dan 10 meter dalam lima tahun terakhir.

Pantauan Pilar Timur, pada pantai yang terkena abrasi didominasi oleh tanah liat. Tak seperti kebanyakan Pantai Desa Taar yang terdiri dari batuan keras sehingga dapat menahan deburan ombak. Realitas ini semakin diperparah ketika ekosistem pohon bakau yang diharapkan dapat menahan deburan ombak, sering dirusak oleh para penggali umpan pancing.

Anselmus Talubun, seorang warga setempat yang rumahnya terkena dampak abrasi, ketika ditemui mengungkapkan, dirinya sangat kecewa dengan pembangunan talud yang tidak efektif. Talud yang sudah ada, ternyata di lokasi pantai berbatu, di mana pantai berbatu dapat menahan abrasi dibandingkan pantai berlumpur.

“Kami heran saja karena talud-talud itu kebanyakan dibangun pada lokasi yang tidak terkena dampak abrasi. Contoh kemarin itu dorang bangun talud di lokasi yang ada batu karang dalam kampung sana. Padahal di sana itu batu karang semua. Mau abrasi bagaimana? Kenapa tidak dibangun di sini (pantai berlumpur)?”, ungkap Anselmus kesal.

Anselmus menuturkan bahwa dirinya pernah menjelaskan kondisi ini kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Tual dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU) namun belum ditanggapi hingga saat ini.

Selain mengancam tempat tinggal warga, bangunan Gereja Katolik dan SMP Negeri 2 Tual juga terancam terkena dampak abrasi, apabila diabaikan. Masyarakat setempat sangat mengharapkan adanya perhatian dari Pemerintah Kota Tual dan Pemerintah Desa Taar.

Pembangunan talud atau tanggul penahan ombak oleh pemerintah Kota Tual dan pelarangan aktivitas penggalian umpan oleh pemerintah desa, merupakan solusi yang dinilai tepat oleh masyarakat setempat.