Harga Kopra Kian Melemah, Warga Kei Besar Tawarkan Solusi Kepada Pemda

Category: Ekonomi & Pembangunan

 

Reporter: Tarsy Temorubun. Editor: Nick Renleuw

 

Kondisi Pasar Elat yang jarang dibuka

Kondisi sejumlah kios di Pasar Elat yang jarang dibuka, dampak dari lambannya perputaran uang (Foto: Tarsy Temorubun).

 

Elat, suaradamai.com – Keluhan masyarakat soal harga kopra di setiap ohoi (desa) di Kei Besar sepertinya sudah menjadi santapan setiap saat di mana-mana. Sekurang-kurangnya kenyataan inilah yang dialami wartawan media ini ketika menelusuri sekitar 30 ohoi di Kei Besar baru-baru ini.

Warga mengeluh soal harga komoditi kopra yang kian melemah. Kopra tidak bisa lagi menjadi jaminan sumber pendapatan warga, sementara beban kebutuhan dan pendidikan anak terus meningkat. Belum lagi harga kebutuhan pokok di pasar yang kian menanjak.

"Harga barang di toko contohnya 1 buah senter kapala Rp 300 ribu, sedangkan katong (kita) dengan susah payah baru dapat kelapa 50 kg tapi belom bisa beli 1 buah senter kepala, belum lagi harga sembako," demikian perbandingan yang dipaparkan Kepala Ohoi Ngat Moses Heatubun di Ngat, Kamis (01/08/2019).

Senada dengan Moses, Achmad Bugis warga Deftel mengutarakan keluhan yang sama. "Katong kecewa karena harga kopra turun sedangkan harga sembako naik terus, kasihan tong rakyat kecil mau jadi apa," keluh Achmad.

Menyikapi situasi ini, warga masyarakat turut memikirkan dan menawarkan sejumlah kritik dan solusi dengan harapan agar mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah Maluku Tenggara,

"Kalau harga kopra yang seperti ini, sebaiknya pemda dong bentuk tataniaga kopra  atau dong datangkan pembeli dari luar supaya ada persaingan harga, atau ada koperasi yang khusus membeli kopra," usul Ignasius, warga Ohoi Ohoilim.

Sementara itu, Yopy Rahangiar, Sekretaris Ohoi Wulurat, tidak segan melontarkan kritik kepada pemda dan DPRD Malra. "Tong bicara soal meningkatkan ekonomi masyarakat di Kei Besar sementara pemda tidak perhatikan katong punya hasil yang membesarkan katong dari dulu (kopra-red) ini, DPR punya kepentingan politik sudah selesai lalu rakyat menderita lagi," ungkap Rahangiar.

"Sekarang kalau  harga kopra yang seperti ini pemda atau DPR (DPRD-red) mana yang bisa peduli kasihan masyarakat tinggal menderita dengan tingkat ekonomi seperti ini," lanjutnya. Rahangiar kemudian menawarkan, sebaiknya BUMO diberdayakan dengan cara membeli dan menjual kopra kepada pemda sebagai alternatif peningkatan harga kopra.

Senada dengan itu, Kepala Ohoi Wulurat Denis Sarkol dan Pj. Kepala Ohoi Ohoilim Bernadus Belyanan di tempat terpisah belum lama ini menyoroti perhatian pemda. Mereka meyakini, perhatian pemda sekurang-kurangnya akan mampu menjaga stabilitas dan rasionalitas harga kopra dengan mencegah permainan harga dari oknum pedagang.

Harapan yang sama disampaikan Kepala Ohoi Rahareng Said Sarkol. Mewakili warga masyarakat ohoi yang dipimpinnya, Sarkol berharap agar pemda dapat memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di Kei Besar, salah satunya dengan cara mengintervensi harga kopra.