Heatubun: Bantuan Orang Miskin Tambah Angka Kemiskinan

Category: Ekonomi & Pembangunan

 

Reporter/Penulis Tarsy Temorubun, editor Labes Remetwa

 

Masyarakat terlena dengan bantuan pemerintah sehingga jadi malas bekerja.

Bupati Hanubun serahkan bantuan rumah kumuh

Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun secara simbolis menyerahkan bantuan material pembangunan rumah layak huni bagi warga dari enam ohoi (desa) di Kei Besar dan Kei Kecil. (Dok. Humas Pemkab Malra)

 

Elat (Ngat), suaradamai.com – Kepedualian pemerintah terhadap keberadaan orang miskin akhir-akhir ini cukup besar. Hal ini ditandai dengan adanya kucuran berbagai bentuk bantuan, mulai dari pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, dan papan. Di satu sisi, hal ini dinilai positif, namun di sisi lain malah menjadikan masyarakat malas bekerja.

Demikian disampaikan Kepala Ohoi Ngat Moses Heatubun (53) kepada awak media ini di Ohoi Ngat, Kei Besar, beberapa waktu lalu.

Menurut Heatubun, setiap calon penerima bantuan wajib memenuhi salah satu syarat, yaitu yang besangkutan harus mendapat surat keterangan tidak mampu dari pimpinan ohoi (desa). Namun karena kecemburuan, mengakibatkan mereka yang tergolong punya kemampuan ekonomi juga turut mendaftar sebagai orang ekonomi lemah (miskin).

Heatubun katakan, hal ini tidak bisa dihindari karena aspek kehidupan sosial masyarakat kampung dengan budaya gotong royong yang selalu dijaga. Pada akhirnya, jumlah orang miskin di ohoi semakin meningkat.

Menurut Heatubun, bantuan yang dikucurkan membuat masyarakat terlena sehingga jadi malas bekerja.

"Kalau dulu sebelum ada raskin, orang-orang banyak berkebun. Tapi sekarang sudah tidak lagi, orang-orang hanya berharap beras raskin. Berati raskin buat orang jadi malas, lalu tinggal tunggu saja, berarti jumlah orang miskin bertambah kan?" kesal Heatubun.

Heatubun berharap, kedepan pemberian bantuan harus tepat sasaran.